• Editor

Pilih Busi dengan Benar Agar Tidak Alami Masalah Seperti Ini

Pemillihan busi yang tepat dan sesuai standar dapat memaksimalkan pembakaran di dalam ruang bakar.

OTOPLUS-ONLINE I Pernah alami mesin berebet, mesin gampang panas, motor jadi boros, atau motor susah distarter? Pemicunya bisa karena busi yang bekerja kurang optimal. Bisa karena salah pilih tipe busi, atau hal lain.


Bisa begitu karena busi memiliki fungsi membakar campuran udara dan bahan bakar, serta membantu melepas panas dari ruang pembakaran.


Melihat peran busi yang sangat penting dalam sepeda motor, para pengendara perlu memilih busi berkualitas agar memberikan kinerja maksimal pada sepeda motor.


Baca juga: Apa Fungsi Elektroda ‘Tiarap’ Pada Busi?

“Produk terbaik dengan performa maksimal pastinya didukung spare part yang berkualitas, maka Yamaha selalu menggunakan dan juga menyediakan spare part asli Yamaha dengan kualitas yang sudah terstandarisasi. Salah satunya adalah busi," jelas Antonius Widiantoro, selaku manager Public Relations, YRA, & Community PT Yamaha Indonesia Motor Mfg.


Ditambahkannya, pemillihan serta penggunaan busi yang tepat dan sesuai standard akan dapat memaksimalkan pembakaran di dalam ruang bakar. "Sehingga akan meningkatkan performa mesin dan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dalam berkendara,” tuturnya.


Baca juga: Membaca Kondisi Mesin Lewat Warna Busi

Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal dalam memilih busi untuk performa mesin yang lebih baik.


Ukuran busi

Pastikan ukuran busi terutama diameter ulir, panjang ulir dan jangkauan insulator sesuai dengan spesifikasi mesin. Karena jika tidak sesuai maka kemungkinan busi akan longgar, overheat, terkena endapan karbon sehingga pengapian tidak sempurna, dan bahkan bisa merusak piston.

Angka panas busi

Pastikan angka panas busi yang tepat dan sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan, karena apabila angka panas busi yang dipakai terlalu besar atau busi terlalu dingin, maka akan mengakibatkan pengendapan karbon pada busi (carbon fouling). Ini yang bikin mesin susah nyala atau berebet.


Dan apabila angka yang dipakai terlalu kecil atau busi terlalu panas, maka busi akan mengalami overheat atau kepanasan, dan mengakibatkan misfire (gagal pengapian).

Angka panas busi akan tertera pada model busi, contohnya pada busi NGK Iridium motor Yamaha dengan kode CR8. C itu merupakan kode ulir 10mm, R artinya busi resistor, dan 8 adalah angka tingkat panas busi.

Semakin tinggi angka busi (7,8,9) maka termasuk golongan busi dingin. Sebaliknya, jika semakin rendah angkanya (di bawah 6) maka termasuk golongan busi panas.

Busi dingin memiliki insulator pendek yang cepat melepas panas, cocok digunakan pada motor dengan performa tinggi, seperti motor balap.


Sedangkan busi panas lebih cepat panas dan lebih lambat dalam melepaskan panas, sehingga cocok digunakan untuk motor sehari-hari.

Penampilan fisik busi

Pastikan busi yang dipakai dalam kondisi prima dengan memperhatikan beberapa ciri fisik berikut :

1. Gasket (ring) sangat sulit dilepas

2. Metal shell lebih mengkilap karena melalui proses chromium plating Cr3

3. Ulir terminal nut lebih halus dan rapi

4. Konstruksi ujung elektroda, gap dan penyambungan pada busi sangat rapi


Teks: Indramawan

Foto: STSJ