• Editor

New Daihatsu Rocky 1.0 TC CVT Ini Kami Tes di Tanjakan, untuk Jawab Keraguan Banyak Orang

Kami bawa compact SUV terbaru Daihatsu ini ke daerah Trawas-Pacet, Mojokerto yang didominasi jalanan menanjak. Bagaimana hasilnya?

Seperti janji kami saat first impression, kali ini OTOPLUS ONLINE ulas lebih detail Daihatsu Rocky

OTOPLUS-ONLINE I Tes tanjakan Daihatsu Rocky ini kami lakukan setelah mendengar banyak pertanyaan sekaligus komentar dari keluarga, teman dan relasi yang tertarik dengan compact SUV ini, namun masih ragu soal performanya.


"Mesinnya 1000cc, kuat gak tuh buat nanjak?”

"Mobil penggerak roda belakang pasti lebih kuat diajak nanjak daripada mobil berpenggerak roda depan.”

“Pengalaman saya naik mobil bertransmisi otomatis apalagi CVT gak kuat nanjak.”


Baca juga: Test Drive Daihatsu Rocky: Tarikan Mesin 1000cc Turbo Terasa di 2.000 Rpm


Sebelum menjawabnya, mari kita telaah dulu spesifikasi teknis dari Daihatsu Rocky. Agar pembaca mendapatkan gambaran, OTOPLUS ONLINE coba bandingkan dengan saudara tuanya, Daihatsu Terios yang memiliki mesin berkapasitas lebih besar dan berpenggerak roda belakang.

Rocky 1.0 TC dibekali mesin 3 silinder turbo kapasitas 998 cc yang hasilkan tenaga maksimum 98 dk, setara mesin 4 silinder non turbo kapasitas 1.500 cc


Terios dibekali mesin berkode 2NR-FE dengan kapasitas bersih 1.496 cc. Mesin ini menghasilkan tenaga 104 dk/6.000 rpm, lebih besar dibandingkan mesin 1KR-VET 998 cc milik Rocky yang bertenaga 98 dk/6.000 rpm. Namun ingat, kemampuan menanjak bukan ditentukan oleh tenaga maksimal melainkan torsi yang dihasilkan!


Torsi maksimal Terios 13,9 Kgm dicapai pada 4.400 rpm. Soal ini Rocky unggul telak lantaran mesinnya mampu menghasilkan torsi hingga 15,2 Kgm atau 149 Nm. Asyiknya torsi maksimal diraih rata pada putaran 2.400-4.200 rpm. Artinya mesin Rocky sudah terasa bertenaga sejak putaran rendah. Karakter ini jelas menguntungkan ketika dipakai di jalanan menanjak.

Rocky andalkan sistem gerak roda depan


Lalu soal penggerak roda depan. Masih banyak yang berasumsi kalau mobil berpenggerak roda depan kalah kuat dibandingkan penggerak roda belakang. Asumsi ini tidak sepenuhnya salah. Pada kondisi ekstrem seperti di jalanan berlumpur atau offroad ringan-sedang, harus diakui kalau mobil dengan penggerak roda belakang lebih tangguh.


Tetapi di tanjakan dengan kondisi jalan mulus, tidak selalu mobil dengan penggerak roda depan kalah kalau diadu dengan mobil berpenggerak roda belakang.


Baca juga: Daihatsu Rocky Serupa Tapi Tidak Sama dengan Toyota Raize


Mobil-mobil modern saat ini umumnya sudah menganut konfigurasi sistem penggerak roda depan bahkan model yang berukuran bongsor sekalipun. Contohnya Toyota Alphard, Mercedes-Benz Vito, Volkswagen Caravelle sampai model SUV seperti Hyundai Santa Fe. Sistem gerak roda depan dipilih karena ringkas dan ringan sehingga memungkinkan kabin dibuat lebih lega untuk mengakomodir kenyamanan dan fleksibilitas penggunaannya.

Kelebihan mobil seperti Rocky dengan sistem penggerak roda depan, ruang penumpang terasa lebih lega dengan penampang jok lapang (foto atas). Bandingkan dengan jok belakang Daihatsu Terios yang terlihat lebih sempit (foto bawah)


Mobil dengan sistem gerak roda depan juga memiliki lantai yang lebih rendah meski angka ground clearance-nya sama dengan mobil dengan gerak roda belakang sebagai imbas dari hilangnya propeller shaft alias as kopel dan garden di poros roda belakang. Efeknya selain kabin jadi lega, stabilitas dan pengendaliannya juga lebih baik.


Baca juga: Daihatsu Rocky 1.2L Tawarkan Pricing Lebih Terjangkau Dibanding Toyota Raize 1.2


Meski begitu harus dipahami kalau karakter mobil penggerak roda depan saat menikung kencang akan selalu understeer. Artinya mobil terasa seperti akan melebar ke luar tikungan. Itu efek natural dari komposisi bobot kendaraan yang mayoritas bertumpu di roda depan.

Transmisi menggunakan CVT yang dilengkapi mode Sport dan manual


Lalu soal transmisi otomatis, khususnya CVT. Menurut OTOPLUS-ONLINE, asumsi itu kemungkinan besar lantaran pengguna belum memahami dengan benar bagaimana memaksimalkan performa dari transmisi otomatis walau ada juga produk yang memang tidak cocok dipakai menaklukkan jalan-jalan menanjak di Indonesia seperti Nissan Grand Livina.


Di 2017 silam, OTOPLUS-ONLINE pernah mengetes Nissan Grand Livina X-Gear bertransmisi CVT ke Bromo. Dengan memosisikan transmisi pada posisi L (low), diringi rasa was-was MPV itu berhasil juga sampai ke puncak meski sempat stuck di satu tanjakan curam.


Pastikan dulu memahami penggunaan gigi L-2-D di transmisi otomatis konvensional sementara untuk transmisi CVT umumnya sudah dibekali mode Sport dan manual seperti halnya di Rocky. Mode manual di Rocky memiliki simulasi 4 percepatan sehingga pengguna dapat menyesuaikan dengan medan yang dilalui secara tepat.

Kami jajal compact SUV terbaru dari Daihatsu ini ke daerah pegunungan di kawasan Trawas-Pacet


Nah! Untuk menjawab keraguan itu, kami membawa compact SUV terbaru dari Daihatsu ini ke daerah pegunungan di kawasan Trawas-Pacet yang didominasi dengan rute menanjak yang cukup menantang. Bagaimana impresinya?

Hasil Pengujian di Jalur Menanjak

Jalan menanjak landai dimulai selepas kota Mojosari


Jalan menanjak landai mulai dijumpai selepas kota Mojosari menuju Trawas, mendekati pertigaan Trawas-Pacet sudut kemiringan tanjakan mulai meningkat, tapi mudah ditaklukkan dengan posisi D (Drive). Pada posisi transmisi D dan pedal gas diinjak secara gradual, perpindahan gigi seolah-olah terjadi di 1.500 rpm, hal ini bertujuan untuk menjaga efisiensi bahan bakar.

Cukup posisikan gigi di D, tanjakan di seputar Trawas-Pacet ditaklukkan dengan mudah


Jika ingin lebih agresif, geser tuas transmisi ke kanan menuju posisi Sport yang ditandai dengan munculnya huruf S di panel meter. Pada posisi S, perpindahan giginya seolah-olah terjadi di 2.500 rpm, tepat ketika mesin menyentuh torsi maksimalnya di 2.400 rpm sehingga terasa responsif begitu pedal gas diinjak. Pada posisi S di jalan menanjak dengan sudut kemiringan 20-25 derajat dengan mudah kami melaju pada kecepatan 80-90 km/jam.


Baca juga: Top Speed Toyota Raize Mentok 160 Km/Jam!


Untuk menjawab penasaran kami pun mencoba melakukan beberapa simulasi di tanjakan bersudut 40-42 derajat yang ada di salah satu ruas jalan di dalam kompleks obyek wisata Warung Desa di Raya Trawas Km.13. Di antaranya start dari posisi diam dengan posisi gigi D, stop & go di rute menanjak dan melaju normal di jalan menanjak.


Start dari posisi diam mengasumsikan kondisi seandainya kita terjebak macet di tanjakan curam. Dengan posisi gigi D, tanpa masalah Rocky bergerak maju meski awalnya muncul sedikit gejala selip dari CVT efek curamnya tanjakan. Namun begitu melaju, dengan mudah Rocky menaklukannya.


Baca juga: All New Raize 1.2 Diluncurkan Lebih Awal untuk Maksimalkan Perpanjangan Diskon PPNBM DTP?


Simulasi stop and go kami lakukan untuk menggambarkan seandainya kita beriringan mengantri di tanjakan. Kehadiran fitur Hill Start Assist (HSA) sangat berguna, meski sudut tanjakan menyentuh 40 derajat, rem bekerja sempurna mencegah SUV ini mundur sesaat ketika kaki kami angkat untuk berpindah dari pedal rem kembali ke pedal gas untuk bergerak maju kembali.


Jika kecepatan digiring sejak awal tanjakan, meski pada posisi gigi D,tanjakan curam bersudut 42 derajat dapat ditaklukkan Rocky dengan mudah namun lantaran panjang tanjakan hanya sekitar 20 meter, kami memutuskan untuk mencari rute tanjakan panjang bersudut curam di daerah Cangar, Pacet.


Baca juga: Raize dan Rocky, Produk Kolaborasi Terbaru Toyota dan Daihatsu


Sayangnya rencana menuntaskan penasaran dengan menjelajah rute yang lebih menantang menuju tanjakan Cangar di Pacet terpaksa kami urungkan lantaran pada 3 Juli 2021 lalu bertepatan dengan mulai diberlakukannya PPKM Darurat di kabupaten Mojokerto. Tepat saat kami tiba di pertigaan Cangar-Trawas, akses menuju obyek wisata Cangar mulai diblokade kepolisian dan satpol PP.


Namun setidaknya kami mendapatkan gambaran potensi kemampuan Daihatsu Rocky yang sesungguhnya. Pada posisi gigi D saja compact SUV ini sanggup untuk menaklukkan jalan-jalan menanjak bersudut 30-35 derajat tanpa kesulitan. Bahkan di jalur menanjak yang cukup panjang, mesinnya tidak pernah kehabisan napas.

Aktifkan Power Mode jika dirasa kurang tenaga


Kalau dirasa kurang bertenaga aktifkan tombol Power dengan menekan tombolnya di setir. Sambung dengan menggeser tuas transmisi ke mode S (Sport).

Jika memerlukan segenap kemampuannya, posisikan transmisi di mode manual, lalu matikan traction control


Jika masih kurang, pilih mode manual yang diinformasikan dengan angka dan huruf (1M, 2M, 3M dan 4M) untuk mengunci posisi gigi sesuai medan yang dilalui. Kalau masih kurang juga, non-aktifkan fitur Traction Control. Dengan menonaktifkan fitur TC, daya mesin akan disalurkan sepenuhnya ke roda penggerak (depan) tanpa intervensi ECU.


Peran TC memastikan roda penggerak tidak mengalami spin. Hal itu dimungkinkan lantaran ECU akan memutuskan suplai bahan bakar saat roda penggerak terdeteksi mengalami spin.

Seperti kebanyakan mobil bertransmisi otomatis atau CVT, efek engine brake terasa minim di jalur menurun


Enak dipakai menanjak, namun harus berhati-hati saat diajak turun. Pasalnya seperti karakter transmisi otomatis termasuk CVT umumnya, efek engine brake terasa minim. Meski transmisi kami posisikan pada mode manual di posisi gigi terendah (1M), di turunan bersudut 20-25 derajat Rocky terasa pengen ngebut saja. Alhasil intervensi rem pasti dibutuhkan untuk mengurangi kecepatan lajunya ketika melibas jalur menurun.

Kabin Nyaman Untuk Perjalanan Jauh

Catatan lain yang kami rangkum sepanjang sesi tes jalan ini meski ukuran bodinya tergolong kompak Rocky nyatanya cukup nyaman dipakai jalan jauh.

Busa jok terasa empuk


Pertama, posisi berkendara. Selain ergonomi ideal mudah diraih berkat keberadaan fitur tilt steering dan seat high adjuster, busa joknya juga empuk dengan jok yang didesain optimal menopang tubuh.

Ada 6 bottle holder di kabinnya


Kedua soal getaran mesin. Daihatsu cukup berhasil mengeliminir getaran khas mesin 3 silinder yang kodratnya lebih terasa dibandingkan mesin 4 silinder lewat penyempurnaan balancer dan aplikasi engine mounting dengan desain dan komposisi material terbaru. Lantaran getaran yang sampai ke kabin minim, perjalanan jauh jadi lebih nyaman.

Laci tersembunyi di bawah jok penumpang depan meningkatkan aspek kepraktisan di kabin Rocky


Ketiga, fleksibilitas dan kenyamanan di baris kedua. Seperti kami singgung sebelumnya, dengan sistem gerak roda depan lantai kabin bisa dibuat lebih rata dan rendah. Jok juga memungkinkan diposisikan lebih ke belakang sehingga menciptakan ruang kaki yang lega.

Sistem multimedianya sudah mengakomodir Android Auto dan Apple Carplay


Sandaran jok belakang juga dapat direbahkan sehingga membuat penumpang di baris kedua dapat duduk lebih nyaman saat perjalanan panjang. Disamping itu, andai diperlukan membawa barang bawaan lebih banyak, jok belakang juga dapat dilipat terpisah dengan komposisi 60-40.

Fleksibilitas kabinnya mampu mengakomodir segala kebutuhan aktivitas


Meski begitu ada kekurangan yang kami rasa masih bisa diperbaiki seperti intrusi suara mesin dan angin yang terdengar masuk ke dalam kabin terutama ketika mesinnya kami ajak berakselerasi kuat. Selain itu, karakter redaman suspensi terasa kaku apabila mobil ini dipakai sendirian tanpa penumpang lain. Karakter redaman suspensi baru terasa nyaman ketika kabinnya diisi penuh oleh 4 penumpang.

Teks: Nugroho Sakri Yunarto

Foto: Hendra Sonie, Nugroho Sakri Yunarto